Akhirnya setelah melalui perjalanan panjang (tentunya menghitung jarak Jakarta-Magelang ditambah jarak rumah saya ke kampus STT Jakarta), hari ini saya resmi menapakkan kaki di kampus Jl. Proklamasi tersebut dengan status 'mahasiswa baru'.
Diluar kebiasaan saya, saya datang agak sedikit terlambat. Alasannya, saya lupa memperhitungkan macet luar biasa yang terjadi mulai dari depan rumah saya sampai di Mampang! Maklumlah sudah lama sekali tidak keluar rumah sepagi itu! Hehehe. Ternyata acara orientasi dimulai dengan kebaktian bersama yang merupakan kebaktian pembukaan semester. Kebaktian ini dihadiri tidak hanya oleh para mahasiswa baru, melainkan SEMUA mahasiswa (meskipun rasanya tidak semua hadir ya, atau memang mahasiswa STT-J hanya sesedikit itu?) beserta para dosen dan juga karyawan.
Pada waktu saya datang, jemaat sedang bernyanyi bersama, dan saya ngat menikmati berada disana dan bernyanyi bersama. Alasannya karena suara kurang lebih 500 orang yang berkumpul disana betul-betul menyatu dalam suatu harmoni suara jemaat yang indah. Terdengar megah tanpa ada suara yang menonjol sama sekali. Bahkan beberapa suara yang mengambil suara dua ataupun tiga terdengar menyatu. Musiknya pun meskipun menggunakan gendang dan beberapa buah gitar, tidaklah mendominasi. Mungkin karena akustik? Yah, apapun juga alasannya, yang jelas pagi tadi saya sungguh menikmati setiap kali kami bernyanyi bersama.
Firman Tuhan dibawakan oleh seorang mahasiswi S1 yang baru pulang praktek lapangan. Dengan didasari oleh ayat Kolose 3:23, dia membahas bagaimana berbedanya keadaan di kampus STT-J dengan apa yang ada di bayangannya dahulu ketika pertama kali masuk dan juga pandangan yang ada di masyarakat. Harus saya akui saya memang kurang begitu menyimak meskipun rasanya saya mendengar semua yang dia katakan. Seingat saya dia membahas pula mengenai bagaimana mahasiswa yang praktek kerja merasa bahwa diri mereka adalah orang yang berbeda saat praktek, orang yang memakai topeng ‘suci’ untuk menyesuaikan diri dengan pandangan masyarakat. Lalu dia menjelaskan bahwa ini tidak perlu terjadi jika pribadi kita sehari-hari memang sudah sejalan dengan ‘profesi’ yang dijalankan, atau lebih tepatnya kalau kita memang senantiasa melakukan segala sesuatu yang kita perbuat seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kira-kira seperti itu.
Sebelum kebaktian diakhiri, ada satu hal yang rasanya perlu saya kritik, yaitu ketika tiba saatnya pengakuan iman. Di layar OHP terpampang dengan jelas – Pengakuan Iman RASULI, jemaat berdiri. Kemudian muncullah slide berikutnya bahwa Pengakuan Iman tersebut akan kita nyanyikan menggunakan lagu KJ 280. Ini menganggu saya, karena setiap minggu saya mengajarkan kepada anak-anak di Sekolah Minggu bahwa Pengakuan Iman yang kita nyanyikan tersebut bukanlah Pengakuan Iman RASULI. Dan disanalah saya, dalam sebuah kebaktian yang diadakan oleh institusi yang seharusnya (menurut saya) mengajarkan perbedaan tersebut, dan kesalahan itu terjadi. Kecil, memang, tapi tetap saya mengganggu. Seperti nyamuk yang berdenging di telinga meskipun tidak menggigit.
Anyway, kebaktian pun ditutup dan dilanjutkan dengan sambutan oleh Bpk. Jan Aritonang selaku Ketua STT-J, dan kemudian diadakan perkenalan-perkenalan. Yang sedikit memalukan adalah ketika Bpk. Samuel Hakh memutuskan untuk memperkenalkan mahasiswa S2 satu persatu. Hahaha, saya tidak siap untuk itu. Tapi ya sudahlah, toh hanya berdiri sambil tersenyum-senyum kanan kiri selagi Pak Sam membacakan nama, gelar S1 dan universitas asal saya. Saya bahkan tidak terpikir untuk protes ketika hanya diberi gelar SE, padahal kan saya sudah repot-repot mendapatkan double degree... hahaha, j/k. Efek samping dari perkenalan singkat ini adalah, saya melihat (dan juga terlihat oleh) berbagai kenalan-kenalan saya di STT-J, baik sesama GSM, sesama peserta tes sinode, maupun beberapa orang yang mengenal Mama saya. Ini sempat membuat teman saya bingung ketika kami mengambil makanan, karena banyak orang yang harus saya salami. Hahaha.
Sesudah sarapan pagi yang lezat meskipun saya sebetulnya sudah sarapan (ah, rencana diet kembali gagal hari ini), kami melanjutkan acara orientasi. Sebagai mahasiswa M.Div rupanya kami mendapatkan sedikit perlakuan spesial. Orientasi kami hanya satu hari, dan tidak bergabung dengan yang lain. Betul-betul hanya sendiri. Cukup eksklusif, seperti les privat, apalagi dari 5 orang peserta program ini hanya 3 yang datang tadi pagi.
Mengikuti kelas pertama yaitu Cara Belajar yang dibawakan oleh Bpk. Kadarmanto, kekhawatiran saya mulai terbukti. Pada detik-detik (menit-menit atau bahkan jam-jam) awal, kepala saya langsung terserang cenat-cenut yang cukup parah. Sudah lama tidak belajar serius rupanya! Hahaha. Saya membayangkan bagaimana dengan rekan-rekan saya yang sudah lebih lama meninggalkan bangku kuliah. Penjelasan dari Bpk. Kadarmanto juga cukup ’mengerikan’ saat saya membayangkan buku-buku yang harus dibaca dan paper-paper yang nantinya harus dibuat. Ah, tapi sudahlah, nanti saja saya pikirkan ketika saatnya tiba.
Makan siang, padahal masih cukup kenyang, lalu kembali masuk ke kelas, kali ini mendengarkan sejarah singkat STT-J dan juga membahas lebih detail mengenai program M.Div dan mata kuliah-mata kuliah yang akan kami hadapi bersama Bpk Samuel Hakh. Yang menarik adalah ketika kami diberitahu bahwa yang akan menjadi Dosen Wali kami adalah Bpk. Joas Adiprasetya. Saya langsung merasa jauh lebih tenang, hahaha. Bagaimanapun juga Kak Joas (eh, maksudnya Pak Joas) sudah lama saya kenal dan merupakan salah satu orang yang paling signifikan pengaruhnya dalam kehidupan Kristiani saya (bagaimana bisa tidak, beliau adalah orang yang memimpin katekisasi saya dan juga men-sidi-kan saya), juga orang yang sangat saya kagumi khususnya dalam bidang Theologi.
Setelah mendiskusikan lebih lanjut mengenai jadwal perkuliahan kami yang mengalami beberapa masalah (yaa, namanya juga angkatan pertama kan ya!), kami pun diantar oleh Mas Harun (katanya tidak mau dipanggil Pak tapi kok rasanya tidak enak kalau hanya panggil Harun saja) berkeliling kampus STT-J, dimulai dari Perpustakaan. Meskipun saya sangat menyukai berada dalam sebuah perpustakaan dan dikelilingi oleh banyak buku, entah kenapa saya merasa tidak begitu nyaman disana tadi. Mungkin masih terhantui oleh bayangan tugas-tugas bacaan yang menanti. Ah, mudah-mudahan saya dapat menikmatinya. Koleksi perpustakaan STT-J betul-betul sangat banyak dan sepertinya sangat menarik untuk ditinjau lebih lanjut.
Yang lebih menarik lagi adalah ketika kami diajak ke Bengkel Pendidikan Kristen. Wow. Saya langsung bertekad untuk menjadikan tempat ini sebagai ’pangkalan’ saya begitu mulai kuliah nanti.
Tour singkat pun dilanjutkan dan berakhir tidak lama kemudian. Setelah melihat-lihat ruangan kelas dengan kursi-kursinya yang antik (hehe), kami kembali ke kantor Pascasarjana. Selagi mengisi formulir Pendaftaran Ulang, muncullah Kak Pak Joas. Kami mengobrol sejenak lalu beliau berkenalan dengan rekan-rekan saya dan setelah itu pergi, dan kami pun pulang. Kuliah akan dimulai tanggal 19 nanti, tidak tanggung-tanggung, mata kuliah pertama kami adalah pukul 7.30, dan bahasannya... BAHASA YUNANI! Wow.
Saya masih mengalami euphoria sampai detik ini. Lah kalau tidak ngapain juga saya rajin-rajin membuat tulisan ga penting ini?? Hehehe. Sepertinya ini akan menjadi tahun yang berat, namun juga tahun yang menyenangkan. Apalagi dilihat dari pengalaman tadi sepertinya kami sudah cukup akrab, dan juga sama-sama agak sedikit ‘gila’, jadi pasti masa-masa perkuliahan ini akan penuh dengan tawa dan canda, namun juga keseriusan yang pada tempatnya. Namanya juga mahasiswa S2, kan sudah sepantasnya lebih dewasa. Ciee... Pertanyaan selanjutnya, apakah saya akan mampu mencapai nilai-nilai yang saya targetkan untuk diri saya sendiri? Yah, kita lihat saja nanti. Yang pasti saya menetapkan standar yang tinggi, dan kali ini sungguh bertekad melakukan apa yang diperlukan untuk bisa meraih nilai yang optimal. Kapan lagi, ya kan?
Wednesday, August 13, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment